Eidetic Memory

Coretan Nopember 14th, 2009

Eidetic Memory, atau juga disebut Photographic Memory, adalah kemampuan untuk mengingat gambar, suara, atau objek lain dengan tingkat akurasi yang tinggi. Biasanya, eidetic memory adalah bawaan dari lahir, dan bukan berdasarkan pembelajaran. Tapi saya sendiri menganggapnya bahwa setiap orang memiliki kemampuan ini, hanya saja berbeda-beda kualitasnya. Sebenarnya, bisa saja kita fokuskan pikiran dengan satu hal, dan berusaha mengingatnya. Tapi mungkin, usaha tiap-tiap orang untuk benar-benar 100% correct dapat berbeda-beda. Ada yang butuh fokus 30 detik saja, atau ada yang 1 menit, bahkan berjam-jam mungkin. Bukan hanya faktor durasi yang menentukan, bisa juga dari korespondensi hal tersebut dengan orang yang dites, dan lain sebagainya.

Diambil dari tulisannya ibu Juliavantiel

Alan Searleman, a professor of psychology at St. Lawrence University in New York, says eidetic imagery comes closest to being photographic. When shown an unfamiliar image for 30 seconds, so-called “eidetikers” can vividly describe the image—for example, how many petals are on a flower in a garden scene. They report “seeing” the image, and their eyes appear to scan across the image as they describe it. Still, their reports sometimes contain errors, and their accuracy fades after just a few minutes. Says Searleman, “If they were truly ‘photographic’ in nature, you wouldn’t expect any errors at all.”

While people can improve their recall through tricks and practice, eidetikers are born, not made, says Searleman. The ability isn’t linked to other traits, such as high intelligence. Children are more likely to possess eidetic memory than adults, though they begin losing the ability after age six as they learn to process information more abstractly. Although psychologists don’t know why children lose the ability, the loss of this skill may be functional: Were humans to remember every single image, it would be difficult to make it through the day.

Dapat dari temen di kaskus, dia bilang

kemaren dicritain ayahku, pasiennya, anak autis seumuran sd, dia abis pegang peta jakarta punya ayahnya, trz tau2 ambil sepeda. ngilang seharian. sampe2 ortunya pada panik. pas sore2 tau2 dia pulang dgn wajah innocent gt. tau ga dia darimana? muter2 jakarta seharian, naek sepeda, sendirian. n ga keblasuk, alias sampe rumah jg.

Nah, itu merupakan contoh paling nyata dari eidetic memory. Kemampuannya menangkap gambar sangat baik, sehingga ia dapat hanya dengan “menerawang”, sudah seakan-akan memiliki peta tersebut di tangannya. Padahal sebenarnya, ngebaca peta juga susah buat nemu jalan pulang tuh, apalagi ama anak SD.

Satu lagi, dapat dari wiki, contoh manusia dengan gift ini adalah Pak Soekarno.

Sukarno, the father of Indonesian independence and the first president of The Republic of Indonesia, had a photographic memory, which helped him in his language learning.

Saya sendiri, biasanya menggunakan yang seperti ini untuk menghapal ayat-ayat AlQuran, soalnya kan ada yang tajwid dan lainnya yang beda-beda, jadi biasanya kayak menerawang halaman tempat ayat itu ada, terus jadi seperti tinggal membaca saja, walaupun lebih sering salahnya.

Saya tes ya.. : 1478395687591758935682947293. Silakan diingat selama-lamanya, bisa diucapkan kembali ga? Kalau saya sih, hmm, ga (baca: akan) bisa. Hehe

Few links: 1, 2, 3, 4, 5, 6, photographic memory game

Blog vs Facebook Note

web 2.0 Mei 12th, 2009

Akhirnya, saya datang lagi ke dalam dunia blog. Saya kembali menuangkan ide cerita ke dalam sebuah tulisan di media ini. Sudah berapa lama saya tidak melihat tampilan “add new post” di wordpress? Belakangan ini, saya disibuki dengan beberapa macam pekerjaan, yang paling utama sih Tugas Akhir. Namun, bukan berarti sekarang ga ada kerjaan, tapi ya karena saya rindu ngeblog, jadi dipaksa untuk muter otak buat nulis. Oia, saya juga telah berpindah blog, awalnya dari http://diaryeki.co.cc (sudah di remove), dan akhirnya memilih blogdetik untuk menampung tulisan-tulisan saya. Kenapa saya pindah? Karena eh karena, lemot sekalii itu blog, mungkin karena semuanya gratisan kali ya? hehe. Terus, kenapa milih blogdetik? Nah, percaya atau tidak, saya memilih blogdetik dengan alasan blogdetik adalah blog yang identik dengan Indonesia, walaupun tetap make engine WP. haha. Gak apa-apa, mana tau bentar lagi blogdetik mau buat engine blog sendiri kan aduhai tuh. Oia, hampir lupa, sebelum saya melirik blogdetik, sempat terlintas juga ide buat domain sendiri, tapi karena keterbatasan dana.. hmmm.. ya begitulah.. haha.. Oke, di kesempatan pertama di blog baru ini, saya memaparkan ide tentang pertarungan yang mungkin akan terjadi: Blog vs Facebook Note.

Saya yakin, Anda pasti tau Facebook kan? Atau malah, udah punya account Facebook? Ya, di sini saya membicarakan suatu fitur di dalam Facebook (akan ditulis dengan fb untuk berikutnya), yaitu note. Dari halaman aplikasinya, saya peroleh “With Facebook Notes, you can share your life with your friends through written entries. You can tag your friends in notes, and they can leave comments. The Notes application page displays notes recently written by your friends, notes in which your friends have been tagged, and links to your own notes.” Note fb adalah suatu fitur yang dapat digunakan untuk mencurahkan isi pikiran kita ke dalam bentuk tulisan. Mirip sekali dengan blog. Hanya saja, note fb belum memiliki kemampuan layaknya blog, seperti: kategori, stats, dan lainnya. Tapi, note fb cukup powerful. Malah banyak teman-teman saya, yang awalnya rajin nulis di blog, sekarang malah berpindah untuk nulis di note fb. Kenapa?

Satu hal yang paling bikin hati adem ayem saat kita nulis adalah ketika orang-orang membaca tulisan kita, ketika mereka memberikan komentar. Nah hal ini bisa dibilang susah ditemui di blog. Enak kalau blog kita udah terkenal, nah kalau belum? ya kita harus blogwalking dulu. Saya rasa ini menjadi alasan terbaik bagi blogger untuk pindah menulis di note. Apalagi di note juga bisa nge-tag-in orang-orang supaya setidaknya mereka membaca tulisan kita. Malah, sekarang note fb juga bisa edit tulisan, maksud saya, tulisannya bisa diganti dengan tag html, jadi ga plain banget kayak dulu.

Nah, hal ini bisa menjadi ancaman serius bagi dunia perblogan, walaupun kita sama-sama tau, kalau Blog dan Facebook memiliki tujuan yang berbeda. Tapi ya tetap saja, dengan adanya note di facebook sudah dapat dikatakan mempunyai fitur utama blog, yaitu: tulisan. Facebook juga bukan cuma “menghajar” blog, tapi juga “membogem” twitter atau plurk. Liat aja, post status di facebook juga bisa dijadikan ajang “chatting”. Jadi ingat, chatting juga bisa dari facebook!! Wah, Facebook emang edan!! Saya sendiri, sebagai seseorang yang kuliah di bidang Informatika, merasa kagum luar bisa melihat sebuah Facebook!! Segala keterkaitan antara komponen satu dengan fitur lainnya, dan sebaliknya: itu sungguh sangat ribet sekali, saudara-saudara.

Semua kembali ke kita, dua-duanya asik-asik saja. Namun, saya pribadi, lebih memilih blog untuk menuangkan ide-ide terbaik saya, walau saya juga sering nulis di note facebook.

Footnote: di tulisan ini, saya tidak membahas kehebatan blog, karena saya anggap kita semua sudah tahu.

pecundang.

Coretan Maret 4th, 2009

Beberapa hari yang lalu, saya dikejutkan oleh hal-hal yang menurut saya aneh sekaligus menyebalkan. Saya tak habis pikir mengapa hal itu bisa terjadi. Jangan tanya “emang apa ki yang terjadi?”, karena sejujurnya saya tidak mau membahasnya. Untuk mereka yang diluar sana, mungkin termasuk saya juga, saya berikan beberapa untaian kata dalam musik agar kita semua sadar akan satu hal: JANGAN JADI PECUNDANG.

Jalani kisah memang sarat liku-liku
Perlu ekstra hati-hati biar jalan ga keliru
Tapi terkadang aral datang lebih pagi
Hantam semua keyakinan hati
Goyahkan dinding baja nurani
Belantara hidup memang wajib dihadapi
Jangan pernah ragu melangkah
Dan jangan takut kalah
Ga ada yang ga mungkin jika mau usaha
Tegarkan hati hadapi semua masalah yang coba
menghadang

Na…na na na na…
Jangan jadi pecundang

Hidup cuma sekali jangan bikin ga berarti
Rasa sesal memang slalu datang belakangan
Mulailah merubah diri, siapkan semua strategi
Tatap tajam tujuan dan berusahalah jadi pemenang

Tipe-X - Jangan Jadi Pecundang.

Bangunlah hai pecundang
Saatnya untuk perang
Lihatlah hai dunia
Saatnya kita menang

Endank Soekamti - Pecundang.

digodain cewek!

Coretan Februari 6th, 2009

Tadi sore, gw jalan ke pasar dayeuhkolot. Niat mencari beberapa barang untuk keperluan bisnis yang akan datang. Hujan rintik-rintik tak menyurutkan keinginanku untuk pergi, sekalian membahasi kepala (padahal gw pake helm). Tiba di sana, gw memarkir motor tepat di depan sebuah toko pakaian, yang nilai plusnya: ada penjaganya yang kebetulan di luar sedang bercanda bersama temannya. Pikiranku saat itu “ya, berarti lumayan aman lah nih motor, banyak orang di depannya.” Maklum bos, kemaren gw kehilangan sepatu pesta gw!! Mana masih kinclong!! Ahhh, sedih banget.

Gw memulai pencarian ke beberapa toko, karena gw ga tau harus memulai dari mana, gw punya ide mendatangi satu toko olahraga untuk beli kaos kaki bola. Dan setelah beli (Rp 13000), gw melancarkan serangan “mas, kalau toko tempat ngebuat etalase kaca gitu di mana ya?” Dia menjawab “Itu, di depan mas” Buset dah, kenapa gw ga liat ya? Tau gini kan gw ga pake acara beli-beli kaos kaki segala. Hah, ilang 13ribu gw.

Lanjut ke toko kaca, singkat cerita, selesai! Terus lanjut nyari bangku plastik, ternyata harganya jauh di bawah harga di Carrefour. (yaiyalah). Harga satuannya Rp20000, sementara di Carrefour nyampe Rp43500. Emang sih, kualitas beda jauh. Hahaha. Lanjut lagi, nyari timbangan. Lama mencari di bawah rintikan hujan, ga nemu euy. Ya udah deh, mau gimana lagi? Terlalu banyak parameter yang akhirnya membuat gw menyudahi pencarian. Parameternya apa aja? Hujan, laper, ngantuk, males.

Gw menuju ke parkiran motor. Selama perjalanan itu, gw melihat kanan kiri, kok banyak yang memperhatikan gw ya? Apa karena gw pake tas, muka sangar, baju tangan panjang (dan sesekali gw memasukkan tangan gw ke dalam baju tangan panjang gw). Apa gw dikira maling ya? Haha.

Tiba di samping motor. Kuperhatikan sekeliling, ternyata ga ada abang tukang parkir. Asikk. Buka jok, ambil helm, pasang helm. Terus terdengar suara dari belakang, “a’ ” diikuti suara tertawa manis. Pikiran gw “aaa, bangke, ada abang parkir ternyata!!”. What next? Ternyata yang manggil gw teteh penjaga toko yang tadi gw sebut di paragraf pertama. Oh no, terus pas gw ngeliat, eh dua-duanya malah saling tuduh sambil bercanda “dia a’ dia”. Karena gw udah masang helm, gw liatin aja tuh si teteh. Ternyata si tetehnya kalang kabut (haha). Tambah gw liatin lagi. Gw males buka helm. Dan untungnya, gw lagi serius sih, jadi ya ga terlalu gw ladenin. Coba aja kalau gw lagi “enjoy”, pasti gw mengedipkan mata buat si teteh itu. Haha.

Nyalain motor, memastikan tak ada abang parkir yang memanggil, membelakangi si 2 orang teteh tadi. Bersiap menunggu jalanan sepi untuk jalan. Eh masih kedengaran si teteh manggil-manggil. Duuuuhh, tuh teteh, ngapain sih?! Ga ada kerjaan sekali. Huft! Ini dia nih, ga enaknya jadi gw: digodain cewek mulu.!! hahaha peace

kisah cinta kecilku (part 1)

Coretan Januari 30th, 2009

Hai, akhirnya kembali hadir di tengah-tengah Anda dengan cerita yang kali ini sangat menyenangkan hati (kalau ga mau dibilang runyam). Semua ini kisah nyata, tanpa rekayasa sedikit pun, dan pastinya berdasarkan ingatan yang tersisa di kepala, maklum nih cerita udah belasan tahun yang lalu. :D
Kisah ini dimulai pada saat SD dulu. Di suatu SD Negeri No.010131 Pulau Rakyat, tahun 1993/1994, saya memulai masa kecil dengan bahagia. Banyak teman, banyak pacar, berlari-larian, lempar-lemparan batu sampai kena kepala dan menjadi jahitan pertama saya di kepala bagian kiri, lari-lari keliling kelas untuk menghindari suntikan dokter (bukan suntik rabies loh), lutut ditusuk pensil ama temen ampe ujung pensilnya tertancap di lutut (uh sakitnya). Pokoknya seru-seruan deh.

Suatu saat, sepertinya saat saya ulang tahun, Shinta memberikan kado. Shinta adalah teman sebangku saya selama SD di Pulau Rakyat. Orangnya baik, lucu, pintar, menggemaskan, de el el *lagi sok tau nih*. Tak sabar kubuka kado darinya, kudapati sebuah pulpen semacam parker warna gelap. Wow! Amazing! Kata mama (atau siapa gitu) “berarti ki, Shinta pengen eki selalu ingat ama Shinta selama eki make pulpennya”

Kupandangin pulpen pemberiannya, sesekali kumainkan pulpennya dengan jemari lentik ku.

Saya tak berlama-lama tinggal di daerah Pulau Rakyat, karena orangtua akan pindah ke kota lain. Saat itu, saya berpikir keras untuk memberikan kenang-kenangan kepada Shinta. Apa ya? Muncul ide, “kenapa ga handuk saja?” Loh kenapa handuk? Ya biar pas Shinta mandi terus handukan dengan handuk saya, dia bakalan ingat terus. Buset ya???!!! Masih kecil aja, pikiran saya udah aneh gitu ..  Maafkeun..

“Shin, ini kenang-kenangan dari Eki”
“Makasih ya Ki”
“Iya, semoga kita ketemu kembali”
-begitu kira kira ucapan saya-

Shinta, wajahmu tak lagi kuingat, dan bukan karena ku tak mau mengingatnya, tapi lebih karena ku tak mampu.
Shinta, aku yakin itu bukan cinta, tapi aku juga yakin itu pasti melibatkan rasa.
Shinta, andaikan kita bertemu lagi setelah belasan tahun terpisah, simpanlah kisah ini sebagai cerita masa kecil kita.

nb. jangan-jangan handuk pemberian saya dijadiin keset kaki.. hehe

kesalahan saat kuliah

Coretan Januari 19th, 2009


Halo, apa kabar? Semoga baik-baik saja, kalaupun sedang ada problemo sebaiknya jangan berlarut-larut untuk menyelesaikannya. Pada artikel kali ini, saya menuliskannya dengan melihat suatu hal dari sudut pandang negatif, tentunya dengan harapan Anda tidak mengikuti apa yang saya tuliskan, namun mengimplementasikan kebalikannya, sehingga menjadikan suatu hal yang positif untuk ditiru.

Kesalahan saat kuliah, begitu judul artikel ini. Bagi Anda yang mahasiswa atau sudah sarjana, pasti mengetahui dengan jelas apa yang saya tuliskan. Nah, bagi yang belum kuliah, just get used to this. Ada apa dengan kuliah? Menurut pandangan saya, terdapat beberapa hal yang semestinya tidak dilakukan di saat kita - mahasiswa - seharusnya berpikiran lebih dewasa dan berperilaku layaknya orang dewasa. Berikut ulasannya:

Salah milih jurusan. Kesalahan fatal sih sebenarnya, tapi biasanya penyesalan dalam kesalahan milih jurusan bisa diminimalisir, bahkan terhapuskan seiring waktu yang berjalan dalam keseharian di jurusan yang salah tadi. Biasanya alasan utama mahasiswa tetap pada jurusan “salah jurusan” nya adalah sudah dapat feel, dapat teman, dan ketemu cewe/cowo cakep nan pintar nan tajir. Kalau kata om Jet di Move On “and just because you just don’t feel like comin’ home, don’t mean that you’ll never arrive”

Tidak memaksa otak bekerja. Mostly, mahasiswa itu pintar, namun yang membedakan nasib adalah kemalasan. Ingat: m-a-l-a-s. Saya sudah berulang kali membuktikannya sendiri, dan bodohnya tetap saja jatuh pada jurang yang sama (jangan ditiru). Berdasarkan analisis saya, kita dapat memaksa otak untuk bekerja dan enjoy terhadap suatu kuliah adalah ketika kita memaksa untuk menggunakannya setidaknya 15 menit penuh.

Ikutan Aksi/Demo untuk suatu hal yang tidak dimengerti. Saya sering melihat teman-teman mahasiswa ikutan demo, jingkrak-jingkrak menuntut keadilan yang seadil-adilnya. Sejujurnya, saya setuju dengan tindakan seperti itu. Namun, hal yang saya sesalkan adalah terkadang mahasiswa cuma nampang doang saat aksi. Mereka tidak mengerti apa yang sedang didemokan, apa yang sedang dituntut, dan lainnya. Apalagi kalau berakhir dengan atraksi yang anarkis. Sungguh memalukan! Di saat kita diberi amanah oleh orangtua untuk belajar menuntut ilmu di bangku perkuliahan, eh ini malah berantem di jalan ama oknum polisi. Ya jelas kalah lah!! Jadi polisi dulu, baru deh kalau punya nyali silakan berantem ama sesama polisi.

Tidak ikutan kepanitiaan/ormawa. Jangan cuma mau jadi mahasiswa, tetapi jadilah mahanya mahasiswa. Hidup di kuliah tidak hanya seputar datang kuliah, ngerjain tugas, makan, tidur, dan kembali kuliah. Kuliah jauh lebih mewah dan elegan! Salah satu kegiatan yang harus diikutin adalah kepanitiaan atau ormawa. Dari sana, Anda bisa memperoleh teman dan lawan berpikir, yang intinya adalah penambahan wawasan dan pengalaman Anda seputar pelajaran manusia. Apa itu pelajaran manusia? It’s all about knowledge to read people.

Menggunakan kata-kata bodoh. Maksud saya adalah kebiasaan mahasiswa untuk tetap menggunakan ejaan-ejaan bahasa Indonesia yang salah. Contoh yang paling umum adalah “eh, gw ga bisa kuliah nih, absenin gw yah? thanks berat” Apa yang salah? Yap, kata absen adalah menandakan ketidakhadiran/kealpaan seseorang. Padahal sebenarnya maksud dari perkataan tadi adalah “tolong isiin daftar hadir gw”. Tanya kenapa?

Bad scheduling. Hidup ini harusnya selalu diawali dengan perencanaan yang bagus. Jangan pernah percaya dengan keberuntungan, karena pada hakikatnya, sesuatu yang diperoleh adalah buah dari usaha kita. Kebanyakan mahasiswa tidak merencanakan campus live-nya dengan baik. Belajar hanya pada H-2 UTS/UAS. Percayalah, itu pasti pernah dan sering terjadi di kalangan mahasiswa!!

Terlalu memanjakan hati. Masa kuliah adalah masa yang tepat untuk  mengasah pikiran. May have to start thinking like mathematicians. Mulailah berpikir secara logika dan melalui pemikiran yang matang. Jadi hati sebagai apa? Sebaiknya Anda pikirkan sendiri.

Silakan dilihat, dibaca, dicermati, dan jangan lupa berkaca pada kelakuan sendiri. Have a good campus live, there!

Dunia ini Panggung Sandiwara

Coretan Januari 2nd, 2009

Cerita yang mudah berubah
Kisah Mahabarata atau tragedi dari Yunani
Setiap kita dapat satu peranan
Yang harus kita mainkan
Ada peran wajar ada peran berpura pura

Peran yang kocak bikin kita terbahak bahak
Peran bercinta bikin orang mabuk kepayang
Dunia ini penuh peranan
Dunia ini bagaikan jembatan kehidupan

Mengapa kita bersandiwara
Mengapa kita bersandiwara

by Nicky Astria - Panggung Sandiwara

Belakangan ini, saya merasa dunia selalu bersandiwara tatkala penghuninya resah dan gelisah, bahkan ketika penghuni dunia ditimpa musibah ataupun mendapat kado istimewa, seakan itu semua dapat disandiwarakan. Lalu saya berkaca pada diri sendiri dan ternyata saya sadari bahwa telah banyak sandiwara yang dilakoni, baik itu berujung bahagia maupun sengsara. Kemudian saya lihat dunia tempat kaki berpijak, kenapa ada hujan deras yang seharusnya adalah sinar mentari indah? kenapa ada kembang api yang seharusnya itu adalah petaka?

Saya membagi cerita bersama Anda tentang beberapa aspek yang saya anggap sebagai sandiwara.

Saya mulai dengan ibadah. Apakah selama ini kita telah beribadah dengan baik kepada Sang Pencipta? Tentu saja, saya sangat tahu bahwa ibadah itu tidak gampang, malah sangat susah! Tapi setidaknya, apakah kita sedang bersandiwara dengan ibadah yang selama ini ada? Setelah dosa tercipta dengan sukses, keesokan harinya kita mengatakan tobat. Dan apa? Esoknya kita telah menciptakan dosa dengan sukses yang lebih meriah. Tentu, saya tidak bermain-main dengan kata ‘tobat’, tapi setidaknya jangan bersandiwara.

Kali ini kita bicara cinta. Apa sih arti cinta? Saya yakin Anda semua sudah paham. Cinta identik dengan kasih sayang, penuh perhatian, dan lainnya. Namun sah-sah saja jika saya mengatakan cinta adalah perbuatan/pergejolakan hati. Coba perhatikan berapa banyak teman Anda yang menghakimi dengan lantang mantan kekasihnya, padahal saat sedang bersama dulu, mereka bagaikan pulpen dan tinta emasnya. Saya tidak tahu pasti, tapi yang saya rasakan adalah sandiwara sedang dimainkan dengan penuh semangat ketika kita sedang mencinta. Jika ada orang bilang: cinta itu buta. Mungkin saja benar!

Mulutmu harimaumu. Yap, semua sandiwara diucapkan dengan kata, walau gerakan tubuh juga memberikan andil yang tidak sedikit. Ada beberapa teman, mereka selalu mengatakan tidak suka dengan si X, dan saya setuju itu. Namun keesokan harinya, mereka berbicara kepada si X layaknya tidak ada masalah di antara mereka. Apa itu salah? It depends. Ada baiknya langsung mengatakan apa yang terjadi, dan mudah-mudahan semua masalah menjadi jelas, dan saling memaafkan. Dan tentunya, proses memaafkan dan dimaafkan akan memakan banyak waktu. Lets just wait for the goodness.

Tertawa dan menangis. Dua hal itu adalah skenario terbaik untuk melakoni sandiwara. Suatu ketika dulu, saya pernah iseng mempersilakan teman saya for reading my palm. Saya terkejut ketika dia bilang, “eki sebenarnya menangis ketika eki terlihat tertawa.” Seketika itu saya keluar kelas dan menyadari bahwa selama ini telah bersandiwara.

Kita pernah bersandiwara, karena kita bisa bersandiwara, dan tak apa untuk terus bersandiwara, tapi pastikan bahwa Anda mengetahui di akhir sandiwara terdapat cerita yang indah. Apakah saya sedang bersandiwara ketika menuliskan artikel ini? InsyaAllah tidak.

Dan satu hal: kenapa ada hitam jika putih menyenangkan?